<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ikobana&#039;s Indokarya</title>
	<atom:link href="http://ikobana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ikobana.wordpress.com</link>
	<description>Qonaah dan Buka kulit tampak isi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Aug 2009 06:41:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ikobana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ikobana&#039;s Indokarya</title>
		<link>http://ikobana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ikobana.wordpress.com/osd.xml" title="Ikobana&#039;s Indokarya" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ikobana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Indonesia Ku jadi Murtad</title>
		<link>http://ikobana.wordpress.com/2009/08/08/indonesia-ku-jadi-murtad/</link>
		<comments>http://ikobana.wordpress.com/2009/08/08/indonesia-ku-jadi-murtad/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 06:41:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikobana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Aku Cinta Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikobana.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Masih tergiang-ngiang ditelinga penulis saat menyanyikan lagu Indonesia Raya semasa bersekolah di SLTP dan SLTA dimana lagu Indonesia Raya selalu dikumandangkan setiap hari senin dalam upacara bendera sang Merah Putih, disamping itu juga dibacakan Panca Sila dan Sumpah Pemuda yang diucapkan ulang oleh para peserta upacara kemudian Pembukaan UUD45 setiap hari senin atau hari awal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikobana.wordpress.com&amp;blog=8920451&amp;post=3&amp;subd=ikobana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih tergiang-ngiang ditelinga penulis saat menyanyikan lagu Indonesia Raya semasa bersekolah di SLTP dan SLTA dimana lagu Indonesia Raya selalu dikumandangkan setiap hari senin dalam upacara bendera sang Merah Putih, disamping itu juga dibacakan Panca Sila dan Sumpah Pemuda yang diucapkan ulang oleh para peserta upacara kemudian Pembukaan UUD45 setiap hari senin atau hari awal pekan sekolah.</p>
<p>Saat Sekarang Lagu Indonesia Raya, Panca Sila, Sumpah Pemuda dan Mukadimah UUD45 masih dibacakan hanya pada saat upacara khusus saja. Tetapi sangat disayangkan masih banyak bangsa Indonesia yang tidak mengerti arti dan makna dari semuanya, untuk tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia tercinta ini, baik sebagai rakyat maupun sebagai pejabat Negara.</p>
<p>Dengan tidak diterapkan sepenuhnya makna dan maksud dari Indonesia Raya, Panca Sila, Sumpah Pemuda dan UUD45 maka penulis dalam Ephoria Moral dan Kebangsaan memberi judul Indonesia Ku Jadi Murtad, memberikan pemahaman secara jelas awalnya mengakui bahkan bersumpah namun dikemudian hari pengakuan dan Sumpah itu ternyata lari dari nilai-nilai yang sudah diakuinya.</p>
<p>Mari kita lihat mulai dari Lagu Indonesia Raya; semenjak pertama kali Indonesia Raya dikumandangkan sebelum merdeka sampai saat ini mungkin banyak para oknum pejabat Negara dan rakyat tidak yakin Indonesia ini tanah airnya, karena ada yang merasa bangga dengan Negara asing dan bahkan melecehkan negaranya sendiri tetapi aneh senang tinggal di Indonesia, dan ini sungguh ironis dan tragis ternyata masih banyak orang-orang munafik dan melupakan penyataan diri sendiri. Kemudian yang luar biasa ada orang Indonesia merasa sebagai alumni dari Negara asing dimana dia pernah tinggal atau sekolah dan telah melupakan kampung halamannya seakan-akan dia tidak perduli terhadap bangsa dan negaranya untuk maju namun sebaliknya justru orang tersebut untuk menekan negara sendiri supaya negara asing dapat dengan leluasa menikmati kekayaan Negara Republik Indonesia dengan berbagai upaya dan cara, dimana pelakunya orang Indonesia yang pernah tinggal atau sekolah dinegara tersebut dengan dalih untuk kebutuhan bangsa padahal dia menyadari bahwa perbuatan tersebut adalah jelas menjual bangsa dan negaranya kepada negara asing. Jika ada anak bangsa yang sangat mencintai dan membela serta ingin memajukan Indonesia malah dimusuhi dan dianggap extrim bahkan dituduh teroris karena tidak berpihak kepada negara barat yang disayangi oleh oknum alumninya itu.</p>
<p>Berbeda dengan putra-putra terbaik bangsa terdahulu, dua diantaranya adalah Mohammad Hatta dan Sumitro sebagai alumni Belanda tetapi mereka berdua tidak membela alumninya bahkan melawan Belanda untuk Indonesia Raya karena mereka Asli Bangsa Indonesia dan menyadari Menjadi pandu Ibu Pertiwi sehingga Indonesia diakui kemerdekaan dan kedaulatannya oleh Negara di dunia.</p>
<p>Diakui kebenarannya atau tidak dunia barat mengkawatirkan Indonesia maju karena mempunyai kekayaan sumber daya bumi dan Manusia yang cerdas dan pintar “<strong><em>jika Indonesia ditata dengan baik akan menjadi Negara ketiga di dunia dalam segala bidang</em></strong>” untuk itulah kemudian Negara Barat menanamkan pesan kepada para oknum alumninya agar membuat bangsa Indonesia tidak maju dengan cara dipelihara tetap bodoh “<strong>Keep them stupid</strong>” dan tidak berharga, kemudian Mereka dengan leluasa mengambil hasil bumi Indonesia secara mudah melalui tangan-tangan oknum alumninya, dengan tanpa disadari oleh bangsa Indonesia. Berbagai cara agar bangsa Indonesia tetap bodoh yaitu dengan membuat biaya sekolah menjadi mahal dengan maksut agar mayoritas rakyat Indonesia cukup sampai SLTA saja sehingga bangsa Indonesia hanya menjadi kuli. Ini dibuktikan dengan berhasilnya Perguruan Tinggi Negeri lebih mahal dari swasta padahal awalnya Perguruan Tinggi negeri dibangun dengan biaya Negara alias uang rakyat bahkan hutang yang harus dibayar oleh rakyat, kemudian tidak pedulinya pemerintah dengan SDM yang cerdas tak satupun bibit bangsa yang juara Olimpiade ilmu pengetahuan disambut oleh Negara dan diberi bea siswa agar bisa sekolah gratis di Republik ini, sedangkan dinegara maju sekolah disubsidi Negara malah ada yang tanpa biaya. Diadakan Ujian Nasional dengan target hanya satu jenjang saja, kelulusan satu jenjang ditentukan oleh pemerintah tanpa melihat kondisi dilapangan dan bukan target masuk perguruan tinggi agar Bangsa Indonesia menjadi kuli saja. Kemudian ikut dengan barat mengecam Umat Islam agar bangsa ini terpecah.</p>
<p>Kenapa hal ini terjadi karena bangsa Indonesia telah murtad dari Buku Panduan Republik Indonesia. Murtad Lagu Indonesia Raya, dalam lirik “bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya” ternyata dalam tatanan bernegara kalimat ini tidak pernah dilaksanakan, sudah jelas dikatakan bahwa Indonesia akan Raya (besar, jaya dan makmur) apabila dimulai dengan membangun jiwa bangsa Indonesia terlebih dahulu baru badannya. Kenyataan sekarang yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat jauh dari pembangunan jiwa, bagaimana jiwa Bangsa ini akan terbangun Pejabat Negara saja tidak peduli dengan pendidikan, sehingga dimana-mana terjadi saling menindas, saling tipu, merampas dan suka-suka baik oknum pejabat maupun rakyat ini sangat berlawanan dengan apa yang diakui dalam Sila kedua “<strong><em>Kemanusia yang adil dan beradap</em></strong>” murtad Panca Sila, bangsa dan oknum pejabat Negara banyak tidak berperikemanusia dan tidak beradap, mulai dari jalan sampai ke meja tingkat tinggi menjadi orang miskin atau kaun duafa mekipun kehidupannya sudah ditanggung oleh Negara, sangat terbalik dari penerapan UUD pasal 34 (1) “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”. Penulis mengatakan oknum pejabat negara sebagai orang miskin karena dalam melaksanakan kewajibannya dalam melaksanakan tugas malah meminta-minta uang haram pada umumnya cara paksa, bahasa halusnya pungutan liar, seolah-olah disahkan dengan dalih gaji kecil, artinya kalau gaji kecil boleh pungli kalau paradigma oknum pejabar Negara demikian maka hukum boleh dilanggar kalau pengasilan kecil, paradigma ini akan mengsengsarakan bangsa Indonesia dan merusak tatanan negara sehingga setiap orang miskin akan boleh mencuri dan merampas asal kecil-kecilan. Kenyataan yang pahit para oknum pejabat Negara merasa <strong><em>gajinya hanya pemberian bukan hak</em></strong> <strong><em>upah untuk melakukan kewajiban</em></strong>, jika ada urusan harus minta paksa lagi kemudian merasa berjasa meskipun sudah ada gaji dan korupsi, mau dikemanakan Peraturan Indonesia yang belandaskan Panca Sila, dimana sila “Kemanusiaan yang adil dan beradap” menurut penulis artinya manusia itu harus adil dan beradap dengan cara tidak merampas hak orang lain dan tidak memakan bukan haknya. Jika merampas hak orang lain artinya sudah murtad lagi dari UUD45 dalam mukadimah dibunyikan “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilan” kita bangsa Indonesia malah menindas bangsa sendiri.</p>
<p>Burung Garuda hanya dipajang tinggi-tinggi diapit oleh gambar Pemimpin negara, namun sampai saat ini bangsa Indonesia tidak bisa menerima perbedaan baik perbedaan daerah, suku, agama, karakter, golongan, sosial, dll. Dimana-mana terjadi bentrokan apabila terjadi silang pendapat lebih menyukai ado otot ketimbang adu otak, yang dipupuk sikap saling iri dan dengki. <strong><em>Negara Kesatuan Republik Indonesia</em></strong> seolah-olah terkotak-kotak kalau bukan berasal dari daerah A maka tidak boleh bekerja di daerah A maupun berwiraswasta dan jika mau aman harus bersedia ditindas, karena dengan lantangnya oknum pejabat, tokoh masyarakat dan LSM menyatakan anda kan berusaha disini (daerah A), jadi harus ada uang palak.  Tetapi sangat aneh kalau dengan bangsa asing malah menerima perbedaannya bahkan disanjung-sanjung dan dihormati, rupanya masih banyak bangsa Indonesia ini yang bermental rodi (masih suka mau dijajah). Perbedaan adalah karunia Allah, mana mungkin semua yang ada didunia ini sama. Coba anda bayangkan jika komponen muka anda semuanya berbentuk mata, hidung seperti mata, mulut seperti mata, telinga seperti mata, alis seperti mata, apa jadinya dn mungkin tidak disebut manusia. Inilah tandanya bahwa perbedaan itu menunjukan <strong><em>Sempurna dan Indah</em></strong><em>, </em>begitu juga dengan apabila bentuk jari anda seperti jempol semua, pasti tidak Indah.</p>
<p>Ini pengamatan penulis, begitu taatnya masyarakat membayar pajak, sudah pasti uang masyarakat yang dibayarkan tidak bisa diambil lagi tetapi para pejabat oknum pajak negara bukannya melaksanakan tugas sesuai dengan kewajibannya dan telah digaji oleh negara malah memalak lagi masyarakat saat membayar pajak, meskipun oknum pejabat negara tersebut mengetahui bahwa gaji yang diterima dari pendapatan pajak masyarakat.  Pelayanan demikian sanyat terbalik dengan Bank, apabila masyarakat menyetorkan uang di bank dan uang tersebut pasti bisa diambil lagi malah dilayaninya baik-baik dengan ramah tanpa palak. Dalam hal ini jelas oknum pejabat negara merasa jadi raja sambil menepuk dada tanpa melalui atau tanda tangan saya urusan anda tidak akan beres, dimana rakyat harus bayar jasa saya. “Padahal masyarakat bayar pajak untuk angaran negara yang sebagiannya untuk bayar gaji yang menepuk dada tadi”. Inilah akibat murtad dari Acuan Negara.</p>
<p>Para peminta-peminta, berhentilah melakukan pekerjaan itu karena inilah yang membuat <strong><em>biaya hidup menjadi tinggi</em></strong>, anda yang meminta memang mendapatkan <strong><em>uang haram</em></strong> namun yang menanggung resikonya <strong><em>anda sendiri</em></strong> yaitu harga kebutuhan kehidupan keluarga anda menjadi naik, sebenarnya tidak seimbang dengan apa yang anda pungli, belum lagi anda dirampok oleh atasan anda, alhasil nikmat membawa sengsara, lingkungan ini terus tetanam dan tumbuh dalam keluarga anda sehingga lahir lagi generasi peminta (kaum duafa) baru yaitu anak anda sendiri, meskipun hasil korupsi anda banyak yang menikmatinya orang lain juga. Anda dalam penjara anak berfoya-foya dan istri anda berleha-leha, tidak ada orang lain yang mau menemani anda dalam keadaan susah, dalam penjara dan dalam alam kubur kecuali hanya amal baik dan amal buruk anda. Hal ini oknum Pejabat Negara hanya tutup mata dan tutup telinga alias <strong><em>Tidak dengar dan tidak lihat</em></strong>, namun sebagai manusia selalu lupa bahwa <em>ucapan yang tidak berpihak untuk kebaikan malah menjadi do’a</em> akhirnya banyak oknum Pejabat Negara menjadi Buta dan tuli karena do’a nya dikabulkan Allah. <strong></strong></p>
<p>Negara Indonesia sudah sering ganti Presiden dan kabinet pemerintahannya, kemudian sebelum bertugas dilantik dan bersumpah ternyata setelah itu banyak oknum pejabat Negara yang murtad dari apa yang disumpahkan, biasanya ada kata-kata “memegang teguh UUD, berbakti kepada Nusa dan Bangsa”.</p>
<p>Penulis sangat yakin bangsa Indonesia sepakat; Bendera Indonesia adalah Merah Putih, Bahasa Indonesia adalah bahasa Indonesia. Mata uang Indonesia adalah Rupiah. Simbol Negara adalah Burung Garuda yang dikakinya dicengram kokoh Bhinneka Tunggal Ika,  Tetapi semuanya itu tulisan saja yang tidak dipedulikan oleh oknum Pejabat Negara dan Bangsa Indonesia.</p>
<p>Kenyataanya sangat berbeda ada oknum pejabat Negara memakai mata uang asing dalam menyusun anggaran tertentu ini sangat lucu dan aneh sedangkan uangnya akan dibelanjakan di Indonesia, ini contoh nyata kemurtatan dan membela Negara asing dari pada negaranya sendiri, itu adalah sebagian dari tugas oknum alumni Negara Barat yang telah dibayar, agar mata uang Indonesia tidak bernilai. Sedangkan uang mata asing diperlakukan lebih dari emas, terlipat sedikit nilai tukarnya di Indonesia menjadi turun sampai diperiksa dengan mesin khusus, yang mesinnya dibuat oleh Negara asing itu sendiri dan dibeli oleh bangsa Indonesia untuk memanjakan uang mereka, yang mereka cetak sesuka hatinya hanya dengan modal Rp.400 saja, sudah bisa membeli hasil bumi Indonesia senilai Rp. 1juta, menurut penulis sangat tidak cerdas bangsa ini meskipun jebolan sekolah tinggi yang bergelar macam-macam ilmu pengetahuan dan Teknologi.</p>
<p>Pembelaan mata uang asing ini salah satu pengkianatan dalam bernegara, karena mata uang asing hanya akan bisa dibelanjakan diluar Negara Indonesia dan bukan barang Indonesia, sudah pasti bukan untuk rakyat Indonesia. Untuk itu beranikah para Pimpinan Republik Indonesia Tercinta ini menyatakan dengan tegas Bangsa Indonesia harus memakai Uang Indonesia dan menjual hasil bumi Indonesia harus dibayar dengan Rupiah meskipun pembelinya Negara luar dengan demikian mereka akan membeli rupiah diluar Indonesia. Jika ini terjadi maka rupiah akan naik martabatnya dan tidak dilecehkan oleh Negara luar. Mungking penulis berpikirnya sangat sederhana jika permintaan banyak pengadaanya tetap maka harga akan naik dan martabat juga naik.</p>
<p>Bahasa Indonesia dimurtadkan dengan banyaknya tulisan dan nama-nama untuk rakyat Indonesia ditulis dalam bahasa asing pelakunya oknum pejabat Negara, contohnya bus way, high way, City, Feeder dll. Seberapa banyak orang asing yang harus dilayani dari pada bangsa sendiri? Ini salah satu bukti bahwa bangsa Indonesia masih merasa bangsa asing lebih penting dari bangsa sendiri, Murtad dari Sumpah Pemuda dan UUD. Dengan dalih global alias gombalisasi agar panduan negara diabaikan. Pada tahun 90an pernah digalakkan Bahasa Indonesia kemudian ganti pejabat ganti kebijakan meskipun murtad dari UUD, padahal ternyata Bangsa lain yang fanatik dengan bahasanya tetap maju baik dalam Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Budaya.</p>
<p>Para pembela dan pemihak negara barat lihatlah kampung anda karena disana ada kakek-nenek anda, orang tua anda, saudara dan keponakan anda, sebenarnya yang anda kianati adalah diri anda sendiri bukan orang lain, berapapun uang yang anda dapat dengan menjual negara ini masih terlalu murah, karena Negara barat itu tidak mungkin mengeluarkan modal kalau tidak untung, harga yang anda terima juga tidak bisa anda nikmati karena kebutuhan anda pasti terbatas karena harta anda hanya apa yang sedang anda pakai dan yang anda makan saat itu selanjutnya belum tahu, mungkin detik berikut anda mati, sakit, dicuri, ditangkap, terbakar dll. Jika Allah yang berkehendak dalam satu detik apa yang anda merasa punya langsung lenyap, Ini bagi orang-orang yang beriman kepada Allah. Negara Indonesia ini akan maju dan bermartabat hanya oleh Bangsa Indonesia sendiri, bukan oleh bangsa lain atau Negara lain meskipun sebesar apapun negara tersebut. Bangsa Indonesia baik individu dan pejabar negara maupun kelompok seperti LSM sebagai oknum pembela barat <strong><em>berhentilah menakuti-nakuti rakyat Republik Indonesia</em></strong> ini dengan memberi pernyataan “seolah-olah Indonesia akan kiamat jika tidak bergatung negara barat”, malah sebaliknya yang terjadi karena bergantung ke negara barat menjadi bangkrut dan tidak bermartabat dimata negara di dunia.</p>
<p>Pertanyaan Penulis adakah <strong><em>calon pemimpin negara</em></strong> kita ini yang dapat dan mampu membuat Republik Indonesia ini menjadi tidak murtad terhadap Panca Sila, UUD45, Sumpah Pemuda dan Lagu Indonesia Raya kemudian tidak menggantungkan Negara ini kepada Negara Lain agar terwujud Indonesia Raya yang dicita-citakan.? Tidak perlu mambawa teori dari Negara luar jalankan saja yang ada dalam Republik Ini hanya dengan <strong><em>berani berkata benar dan berani berbuat benar</em></strong>, benar berdiri sendiri artinya kalau benar ya benar tidak ada sedikit benar atau sangat benar. Insya Allah Indonesia Raya makmur, aman dan sentosa.</p>
<p>Penulis kagum dengan Muhammad Yamin sebagai penyusun sila Pansa Sila dengan urutan yang dapat dilogikakan; Sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab” akan dapat dicapai apabila manusia Indonesia melaksanakan sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” menurut pengertian penulis setiap bangsa harus melaksanakan ajaran agama dan menerapkan dalam kehidupan sehingga dia menjadi manusia yang mempunyai jiwa kemanusiaan yang adil dan beradap. Jika sila pertama runtuh maka runtuhlah sila selanjunya. Kemudian jika sila kedua tidak tercapai jangan diharapkan sila ketiga dapat terwujud “Persatuan Indonesia” bagaimana kita bias bersatu kalau setiap oknum bangsa dan oknum Pejabat Negara beperilaku tipu-menipu, tindas-menindas, palak-memalak, curi-mencuri, gontok-gontokan disilah letak gunanya sila ke dua. Setelah Bangsa Indonesia Bersatu maka bisa bermusyawarah untuk mewujutkan keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia.</p>
<p>Dalam tulisan ini penulis selalu memakai kata Pejabat Negara agar berkesan para pejabat atau pegawai sebagai pengatur dan pelayan Negara, jika Pemintah seolah-olah orang yang memberi perintah dan berkuasa baik jabatan maupun dalam keuangan, seperti raja, makanya dimana-mana menindas, minta-minta uang dan ambil uang. Kemudian Pemerintah itu biasa menganut pilosofi “<strong><em>Kalau aturan bisa dipersulit kenapa dipermudah</em></strong>” jika bernegara “<strong><em>Kalau aturan bisa dipermudah kenapa dipersulit</em></strong>”. Terbukti dalam Acuan Tatanan Negara Republik ini semuanya mudah.</p>
<p>Serang, 23 February 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikobana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikobana.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikobana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikobana.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikobana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikobana.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikobana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikobana.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikobana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikobana.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikobana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikobana.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikobana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikobana.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikobana.wordpress.com&amp;blog=8920451&amp;post=3&amp;subd=ikobana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikobana.wordpress.com/2009/08/08/indonesia-ku-jadi-murtad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d82e793d1952db7c636027e96e352905?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikobana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://ikobana.wordpress.com/2009/08/08/hello-world/</link>
		<comments>http://ikobana.wordpress.com/2009/08/08/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 06:28:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikobana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikobana.wordpress.com&amp;blog=8920451&amp;post=1&amp;subd=ikobana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikobana.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikobana.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikobana.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikobana.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikobana.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikobana.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikobana.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikobana.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikobana.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikobana.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikobana.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikobana.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikobana.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikobana.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikobana.wordpress.com&amp;blog=8920451&amp;post=1&amp;subd=ikobana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikobana.wordpress.com/2009/08/08/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d82e793d1952db7c636027e96e352905?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikobana</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
